Arahkan mouse ke gambar diatas, klik untuk memperbesar.
LOOK ME IN THE EYE Hidup Seorang Aspergian Mencari Tempat di Dunia
John Elder Robison
Ketika aku kecil, orang-orang dewasa
memberitahuku nama-nama untuk semua hal dan semua orang. Aku tidak
menguasai nama-nama itu, dan tidak menyukainya. Namun ketika aku
bertambah besar, aku mendapatkan hak untuk memberikan nama. Aku diberi
sebuah traktor yang kunamai Chippy dan kunamai istriku Little Bear.
Waktu aku dan Little Bear bercerai
dan aku menikah lagi, ia kehilangan namanya. Ia menjadi benci dipanggil
Little Bear bercerai dan aku menikah lagi, ia kehilangan namanya. Ia
menjadi benci dipanggil Little Bear karena itu mengingatkannya pada
masa-masa indah ketika kami masih bersama, dan aku tidak punya
panggilan lain untuknya kecuali “Hei!”
Sejak kecil, John Elder Robison
selalu sadar bahwa ia berbeda dari orang lain. Ia tak mampu melakuan
kontak mata atau berteman dengan anak sebayanya. Di masa remaja,
kebiasaan anehnya seperti kecenderungan untuk menyemburkan pernyataan
yang tak berhubungan, terobsesi membongakr radio, dan menggali lubang
sedalam satu setengah meter (dan menjebloskan adiknya ke dalamnya)
memberikan predikat “penyimpangan sosial”. Ibunya yang sering berbicara
dengan lampu dan ayahnya yang menghabiskan malam hari dengan mengasuh
botol alcohol memperparah keadaan.
Look Me in the Eye adalah cerita
menakjuban yang ditulis dengan lucu tentang tumbuh kembang bersama
sindrom Asperger, bentuk ringan dari autisme, pada saat diagnosisnya
belum ada. Buku ini juga bercerita tentang kedua orangtua dan adiknya,
Augusten Borrough, penulis Running with Scissors. Namun yang
terpenting, buku ini adalah sebuah memoir tentang seorang anak manusia
yang mencoba menemukan tempatnya di tengah dunia.